July 28, 2017

Ekonomi Kapitalis

Jika yg bemain dibalik hutang itu adalah seperti yg diposting kawan ini maka habislah rakyat kita yg masih rendah kualitasnya….semga tidak lah:

Tulisan dari Dwi Condro Triyono, Ph.D. ini, in shaa Allah sungguh dapat menambah ilmu dan wawasan.
Sistem Ekonomi Kapitalisme telah mengajarkan bahwa pertumbuhan Ekonomi hanya akan terwujud, jika semua pelaku Ekonomi terfokus pada akumulasi Kapital (modal).
Mereka lalu menciptakan sebuah mesin “penyedot uang” yang dikenal dengan lembaga Perbankan. 

Oleh lembaga ini, sisa-sisa uang di sektor rumah tangga yang tidak digunakan untuk konsumsi akan “disedot”.
Lalu siapakah yang akan memanfaatkan uang di Bank tersebut? 

Tentu mereka yang mampu memenuhi ketentuan pinjaman (kredit) dari Bank, yaitu: 
Fix return dan Agunan. 
Konsekuensinya, hanya pengusaha besar dan sehat sajalah yang akan mampu memenuhi ketentuan ini. 
Siapakah mereka itu? 
Mereka itu tidak lain adalah kaum Kapitalis, yang sudah mempunyai perusahaan yang besar, untuk menjadi lebih besar lagi.
Nah, apakah adanya lembaga Perbankan ini sudah cukup? 

Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. 
Dengan cara apa?
Yaitu dengan Pasar Modal. Dengan pasar ini, para pengusaha cukup mencetak kertas-kertas Saham untuk dijual kepada masyarakat, dengan iming-iming akan diberi Deviden.

Siapakah yang memanfaatkan keberadaan Pasar Modal ini? 

Dengan persyaratan untuk menjadi Emiten dan penilaian Investor yang sangat ketat, lagi-lagi hanya perusahaan besar dan sehat saja, yang akan dapat menjual sahamnya di pasar modal ini.
Siapa mereka itu? 

Kaum Kapitalis juga, yang sudah mempunyai perusahaan besar, untuk menjadi lebih besar lagi. 
Adanya tambahan Pasar Modal ini, apakah sudah cukup? 
Bagi kaum Kapitalis tentu tidak ada kata cukup. Mereka ingin terus membesar. 
Dengan cara apa lagi?
Cara selanjutnya yaitu dengan “memakan perusahaan kecil”. 

Bagaimana caranya? 
Menurut Teori Karl Marx, dalam pasar Persaingan Bebas, ada Hukum Akumulasi Kapital (The Law Of Capital Accumulations), yaitu perusahaan besar akan “memakan” perusahaan kecil. 
Contohnya, jika di suatu wilayah banyak terdapat toko kelontong yang kecil, maka cukup dibangun sebuah mal yang besar. Dengan itu toko-toko itu akan tutup dengan sendirinya.
Dengan apa perusahaan besar melakukan ekspansinya? 

Tentu dengan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.
Agar perusahaan Kapitalis dapat lebih besar lagi, mereka harus mampu memenangkan Persaingan Pasar. 
Persaingan Pasar hanya dapat dimenangkan oleh mereka yang dapat menjual produk-produknya dengan harga yang paling murah. 
Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mengusai sumber-sumber bahan baku seperti: pertambangan, bahan mineral, kehutanan, minyak bumi, gas, batubara, air, dsb. 

Lantas, dengan cara apa perusahaan besar dapat menguasai bahan baku tersebut? 
Lagi-lagi, tentu saja dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.
Jika perusahaan Kapitalis ingin lebih besar lagi, maka cara berikutnya adalah dengan “mencaplok” perusahaan milik negara (BUMN).

Kita sudah memahami bahwa perusahaan negara umumnya menguasai sektor-sektor publik yang sangat strategis, seperti:
Sektor Telekomunikasi, Transportasi, Pelabuhan, Keuangan, Pendidikan, Kesehatan, Pertambangan, Kehutanan, Energi, dsb. 
Bisnis di sektor yang strategis tentu merupakan bisnis yang sangat menjanjikan, karena hampir tidak mungkin rugi. 
Lantas bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan mendorong munculnya: 

Undang-Undang Privatisasi BUMN. 
Dengan adanya jaminan dari UU ini, perusahaan kapitalis dapat dengan leluasa “mencaplok” satu per satu BUMN tersebut. 
Tentu tetap dengan dukungan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.
Jika dengan cara ini kaum Kapitalis sudah mulai bersinggungan dengan UU, maka sepak terjangnya tentu akan mulai banyak menemukan hambatan. 

Bagaimana cara mengatasinya?
Caranya ternyata sangat mudah, yaitu dengan masuk ke sektor Kekuasaan itu sendiri. 

Kaum Kapitalis harus menjadi Penguasa, sekaligus tetap sebagai Pengusaha.
Untuk menjadi Penguasa tentu membutuhkan modal yang besar, sebab biaya Kampanye itu tidak murah. 

Bagi kaum Kapitalis hal itu tentu tidak menjadi masalah, sebab permodalannya tetap akan didukung oleh dua lembaga sebelumnya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.
Jika kaum Kapitalis sudah melewati cara-cara ini, maka Hegemoni (pengaruh) Ekonomi di tingkat nasional hampir sepenuhnya terwujud. Hampir tidak ada problem yang berarti untuk dapat mengalahkan kekuatan Hegemoni ini. 

Namun, apakah masalah dari kaum Kapitalis sudah selesai sampai di sini?
Tentu saja belum. Ternyata Hegemoni Ekonomi di tingkat nasional saja belumlah cukup. 

Mereka justru akan menghadapi problem baru. 
Apa problemnya?
Problemnya adalah terjadinya ekses (kelebihan) produksi. 

Bagi perusahaan besar, yang produksinya terus membesar, jika produknya hanya dipasarkan di dalam negeri saja, tentu semakin lama akan semakin kehabisan konsumen. 
Lantas, ke mana mereka harus memasarkan kelebihan produksinya? 
Dari sinilah akan muncul cara-cara berikutnya, yaitu dengan melakukan Hegemoni di tingkat dunia.
Caranya adalah dengan membuka pasar di negara-negara miskin dan berkembang, yang padat penduduknya. 

Teknisnya adalah dengan menciptakan organisasi perdagangan dunia (WTO), yang mau tunduk pada ketentuan perjanjian perdagangan bebas dunia (GATT), sehingga semua negara anggotanya akan mau membuka pasarnya, tanpa halangan tarif bea masuk, maupun ketentuan kuota impornya (bebas proteksi).
Dengan adanya WTO dan GATT tersebut, kaum Kapitalis dunia akan dengan leluasa dapat memasarkan kelebihan produknya di negara-negara “jajahan”-nya.

Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaga andalannya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Jika Kapitalis dunia ingin lebih besar lagi, maka caranya tidak hanya cukup dengan mengekspor kelebihan produksinya. 

Mereka harus membuka perusahaannya di negara-negara yang menjadi obyek ekspornya. 
Yaitu dengan membuka Multi National Coorporations (MNC) atau perusahaan lintas negara, di negara-negara sasarannya.
Dengan membuka langsung perusahaan di negara tempat pemasarannya, mereka akan mampu menjual produknya dengan harga yang jauh lebih murah. 

Strategi ini juga sekaligus dapat menangkal kemungkinan munculnya industri-industri lokal yang berpotensi menjadi pesaingnya.
Untuk mewujudkan ekspansinya ini, perusahaan Kapitalis dunia tentu akan tetap didukung dengan permodalan dari dua lembaganya, yaitu Perbankan dan Pasar Modal.

Apakah dengan membuka MNC sudah cukup? 

Jawabnya tentu saja belum. 
Masih ada peluang untuk menjadi semakin besar lagi. 
Caranya? 
Yaitu dengan menguasai sumber-sumber bahan baku yang ada di negara tersebut.
Untuk melancarkan jalannya ini, Kapitalis dunia harus mampu mendikte lahirnya berbagai UU yang mampu menjamin agar perusahaan asing dapat menguasai sepenuhnya sumber bahan baku tersebut.

Contoh yang terjadi di Indonesia adalah lahirnya:

UU Penanaman Modal Asing (PMA), yang memberikan jaminan bagi perusahaan asing untuk menguasai lahan di Indonesia sampai 95 tahun lamanya (itu pun masih bisa diperpanjang lagi). 
Contoh UU lain, yang akan menjamin kebebasan bagi perusahaan asing untuk mengeruk kekayaan SDA Indonesia adalah: 
UU Minerba, UU Migas, UU Sumber Daya Air, dsb.
Menguasai SDA saja tentu belum cukup bagi kapitalis dunia. Mereka ingin lebih dari itu. 

Dengan cara apa? 
Yaitu dengan menjadikan harga bahan baku lokal menjadi semakin murah. 
Teknisnya adalah dengan menjatuhkan nilai Kurs Mata Uang lokalnya.
Untuk mewujudkan keinginannya ini, prasyarat yang dibutuhkan adalah pemberlakuan Sistem Kurs Mengambang Bebas (Floating Rate) bagi mata uang lokal tersebut. 

Jika nilai kurs mata uang lokal tidak boleh ditetapkan oleh Pemerintah, lantas lembaga apa yang akan berperan dalam penentuan nilai kurs tersebut?
Jawabannya adalah dengan Pasar Valuta Asing (valas). 

Jika negara tersebut sudah membuka Pasar Valasnya, maka kapitalis dunia akan lebih leluasa untuk “mempermainkan” nilai kurs mata uang lokal, sesuai dengan kehendaknya. 
Jika nilai kurs mata uang lokal sudah jatuh, maka harga bahan-bahan baku lokal dijamin akan menjadi murah, kalau dibeli dengan mata uang mereka.
Jika ingin lebih besar lagi, ternyata masih ada cara selanjutnya. 

Cara selanjutnya adalah dengan menjadikan upah tenaga kerja lokal bisa menjadi semakin murah. 
Bagaimana caranya? 
Yaitu dengan melakukan proses Liberalisasi Pendidikan di negara tersebut. 
Teknisnya adalah dengan melakukan intervesi terhadap UU Pendidikan Nasionalnya. 
Jika penyelenggaraan pendidikan sudah diliberalisasi, berarti pemerintah sudah tidak bertanggung jawab untuk memberikan Subsidi bagi pendidikannya. 

Hal ini tentu akan menyebabkan biaya pendidikan akan semakin mahal, khususnya untuk pendidikan di perguruan tinggi. 
Akibatnya, banyak pemuda yang tidak mampu melanjutkan studinya di perguruan tinggi.
Keadaan ini akan dimanfaatkan dengan mendorong dibukanya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sebanyak-banyaknya. 

Dengan sekolah ini tentu diharapkan akan banyak melahirkan anak didik yang sangat terampil, penurut, sekaligus mau digaji rendah. 
Hal ini tentu lebih menguntungkan, jika dibanding dengan mempekerjakan Sarjana. 
Sarjana biasanya tidak terampil, terlalu banyak bicara, dan maunya digaji tinggi.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, cara-cara Hegemoni Kapitalis dunia di negara lain ternyata banyak mengunakan Intervesi UU. 

Hal ini tentu tidak mudah dilakukan, kecuali harus dilengkapi dengan cara yang lain lagi. 
Nah, cara inilah yang akan menjamin proses Intervensi UU akan dapat berjalan dengan mulus. 
Bagaimana caranya?
Caranya adalah dengan menempatkan Penguasa Boneka. 

Penguasa yang terpilih di negara tersebut harus mau tunduk dan patuh terhadap keinginan dari kaum Kapitalis dunia. 
Bagaimana strateginya?
Strateginya adalah dengan memberikan berbagai sarana bagi mereka yang mau menjadi Boneka. 

Sarana tersebut, mulai dari bantuan dana kampanye, publikasi media, manipulasi lembaga survey, hingga intervesi pada sistem perhitungan suara pada Komisi Pemilihan Umumnya.
Nah, apakah ini sudah cukup? 

Tentu saja belum cukup. 
Mereka tetap saja akan menghadapi problem yang baru. 
Apa problemnya?
Jika Hegemoni kaum Kapitalis terhadap negara-negara tertentu sudah sukses, maka akan memunculkan problem baru. 

Problemnya adalah “mati”-nya negara jajahan tersebut. 
Bagi sebuah negara yang telah sukses dihegemoni, maka rakyat di negara tersebut akan semakin miskin dan melarat. 
Keadaan ini tentu akan menjadi ancaman bagi kaum Kapitalis itu sendiri. 
Mengapa?
Jika penduduk suatu negeri itu jatuh miskin, maka hal itu akan menjadi problem pemasaran bagi produk-produk mereka. 

Siapa yang harus membeli produk mereka jika rakyatnya miskin semua? 
Di sinilah diperlukan cara berikutnya.
Agar rakyat negara miskin tetap memiliki daya beli, maka kaum kapitalis dunia perlu mengembangkan Non Government Organizations (NGO) atau LSM. 

Tujuan pendirian NGO ini adalah untuk melakukan Pengembangan Masyarakat (community development), yaitu pemberian pendampingan pada masyarakat agar bisa mengembangkan industri-industri level rumahan (home industry), seperti kerajinan tradisionil, maupun industri kreatif lainnya. 
Masyarakat harus tetap berproduksi (walaupun skala kecil), agar tetap memiliki penghasilan.
Agar operasi NGO ini tetap eksis di tengah masyarakat, maka diperlukan dukungan dana yang tidak sedikit. 

Kaum Kapitalis dunia akan senantiasa men-support sepenuhnya kegiatan NGO ini. 
Jika proses pendampingan masyarakat ini berhasil, maka kaum kapitalis dunia akan memiliki tiga keuntungan sekaligus, yaitu: 
(1) Masyarakat akan tetap memiliki daya beli, (2) akan memutus peran pemerintah dan yang terpenting adalah, (3) negara jajahannya tidak akan menjadi negara industri besar untuk selamanya.
Sampai di titik ini Kapitalisme dunia tentu akan mencapai tingkat kejayaan yang nyaris “sempurna”. 

Apakah kaum kapitalis sudah tidak memiliki hambatan lagi? 
Jawabnya ternyata masih ada. 
Apa itu? 
Ancaman Krisis Ekonomi. 
Sejarah panjang telah membuktikan bahwa Ekonomi Kapitalisme ternyata menjadi pelanggan yang setia terhadap terjadinya Krisis ini.
Namun demikian, bukan berarti mereka tidak memiliki solusi untuk mengatasinya. 

Mereka masih memiliki jurus pamungkasnya. 
Apa itu?
Ternyata sangat sederhana. 

Kaum kapitalis cukup “memaksa” pemerintah untuk memberikan talangan (bail-out) atau Stimulus Ekonomi. 
Dananya berasal dari mana? 
Tentu akan diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sebagaimana kita pahami bahwa sumber pendapatan negara adalah berasal dari Pajak rakyat. 

Dengan demikian, jika terjadi Krisis Ekonomi, siapa yang harus menanggung bebannya?
Jawabnya adalah: 
Rakyat, melalui pembayaran pajak yang akan terus dinaikkan besarannya, maupun jenis-jenisnya.
Bagaimana hasil akhir dari semua ini? 

Kaum Kapitalis akan tetap jaya, dan rakyat selamanya akan tetap menderita. 
Di manapun negaranya, nasib rakyat akan tetap sama. 
Itulah produk dari Hegemoni Kapitalisme Dunia.
– Author anonymous

May 29, 2014

Cremona

Mungkin banyak yang tidak menduga bahwa otak tidak memiliki implikasi yang baik atas perilaku. Indikasi ini tersaji bagaimana kita dengan mudahnya melupakan eksistensi otak didalam tempurung kepala, pada saat berucap, bertindak, dan merasa. Ini yang membuat kehidupan bak sebuah aliran air yang mengalir, namun seharusnya tidak begitu

Sungguh berbeda bagaimana apa yang yang dilakukan dengan eksistensi pikiran dibandingkan dengan apa yang dilakukan tanpa eksistensi pikiran. Sebagai permisalan: menghukum diri dengan menambatkannya pada ikatan aliran air yang mengalir

Sudah jalannya bahwa kita sebagai manusia komunal berada dalam suatu interaksi sosial yang lepas. Namun memiliki batasan. Dilain hal sikap terbuka pun seharusnya menjadi balutan agar kehidupan sosial pun semakin menjadi cantik. Rima interaksi sosial akan bertransformasi menjadi seni yang menyenangkan. Seterusnya seiring untaian yang semakin terikat baik ini, maka akan dapat memberikan pola aliran energi yang baik pula. Kita membiarkan energi mengalir semestinya. Namun eksistensi pikiran bukan menginginkan kita mengalir apa adanya

Yang identik dari peran pikiran adalah mind set pelajar. Pelajar yang baik adalah dia yang selalu ingin belajar dan tidak menolak untuk mengajarkan. Apa yang ia inginkan adalah kebenaran yang terukur, yang tidak hanya sekedar perkiraan

Kita harus menyadari bahwa. Untaian sosial yang dibalut dengan pikiran ini merukapan suatu kekuatan. Namun ekses baik apa yang kita dapatkan dari konsistensi itu? Adalah kedewasaan

Aku pernah menuliskannya di suatu tempat yang indah dan tek tergantikan. Disautu lembar yang bersih dan tidak bersisian dengan apapun. Suatu kalimat yang kelak aku akan butuhkan kembali disaatku surut. Tempat dimana energi itu dapat ku isi kembali kala ku takut

“Kesederhanaan akan menghantarkanmu pada kedewasaan”

29/05/14
23:44
Dri

April 22, 2014

Roti dan Berry

Inilah kisah seorang mafia. Aku.

Sejak kali pertama aku melihat bedebah itu, aku langsung tau bahwa disini akan jadi menyenangkan bersamanya. Hingga saat ini tidak banyak yang kutahu tentangnya. Namun satu hal yang jelas, bahwa dia adalah seorang yang sombong.

Mari ikuti pembuktianku.

Sebagaimana selayaknya seorang yang demikian (sombong), mereka selalu menempatkan posisinya diatas yang lainnya, dia punya cerita yang selalu diatas cerita yang lainnya. Dan terakhir, mereka selalu berkilah bahwa kebenaran akan selalu miliknya.

Adalah mario, seorang anak pria yang akan kuceritakan kali ini. Dia hidup dari kalangan biasa, makan selayaknya seperti orang biasa, dan melakukan banyak hal sebagaimana orang biasa. Yang tidak biasa adalah bahwa ia ingin sekali lekas menjadi orang yang luar biasa. Melampaui batas kewajaran manusiawi.

Apa itu luar biasa dalam kacamataku. Adalah mereka yang extraordinary. Memiliki hal lebih yang tidak dimiliki orang lain yang itu adalah anugerah yang mampu ia optimalkan. Namun bagaimana luar biasa dalam versi mereka? Setelah kusimpulakan definisinya adalah sebagai berikut; 1)Bagaimana orang agar tidak lebih dari dirinya, 2)Bagaimana agar orang menghormatinya, 3)Bagaimana seterusnya ia mampu meninggalkan orang lainnya, sejauh mungkin.

Aku sangat ulet melakukan observasi. Sering sekali aku menatap terlalu lama terhadap objek yang aku amati yang kemudian ditutup dengan berpikir. Berpikir keras. Hingga sangat keras. Untuk mengkorelasikan banyak hal. Barangkali ini adalah anugerah bagiku karena semua rangkaian tersebut terjadi begitu saja tanpa aku rencanakan. Apakah aku sombong. Tidak. Krn bukan kalian patokanku.

Tepat sekali. Perbedaan antara definisi luar biasa yang kita miliki dan mereka tersebut miliki adalah titik referensi, atau acuan. Mereka seolah berkata “apapun itu, semua adalah mengenai mereka”. Berpatok kepada orang lain dan bukan dia. Subjektif. Sedangkan definisiku adalah bagaimana aku bisa menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik. Tidak perduli apakah orang lebih baik dariku atau bukan. Objektif. See, bukannkah itu merupakan sikap tidak-sombong. Karena memang aku bukan orang yang sombong.

Mario kemudian menjadi keluhan banyak orang. Mulai dari langkahnya, bagaimana ia menyuap makan, bagaimana ia melirik, bagaimana gesur bibirnya saat berbicara, bagaimana dia saat mengikat tali sepatunya, bagaimana ia mengangkat tong sampah itu!, bahkan bagaimana ia tersenyum saat bersepeda.

Setiap hari ia bersepeda ke sekolah ini. Kemudian parkir pada parkir sepeda yang tersedia. Hanya menggunakan satu slot seperti yang lainnya. Selanjutnya ia berjalan melewati lorong seperti aku yang kini tengah berjalan disebelahnya.

“hai mario”

“hai roni”

“bagaimana dengan tugas fisika?”

“selesai. Bagaimana denganmu?”

“selesai”

“nanti sore kau ada acara mario?”

“belum ada. ada apa?”

“Tidak. Hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jika kau ada waktu”

“bisa. Aku bisa. Kau yang pertama hari ini. Bagaimana aku menolak”

“terimakasih”

“jam 4 aku keluar kelas. Kabari aku”

“aku menunggu di depan kelasmu”

“baik. Sampai nanti”

“sampai nanti”

Apakah kalian merasa ada yang tidak wajar dari pembicaraan barusan? Yang jelas aku bukan tipikal penyuka sesama jenis. Orang bilang aku dingin. Namun disaat yang sama orang bilang aku bersahabat. Jika dikalkulasi secara matematis, ‘dingin’ ditambah ‘bersahabat’ akan menghasilkan ‘konsisten’. Silahkan kalian melihat ke langit-langit tempat kalian berada saat ini lalu memikirkan bagaimana kesamaan matematis ini dpat terjadi dengan me-reka-reka bagaimana aku melakukan dingin dan disaat bersaman juga bersahabat tersebut.

Sore hari aku menunggunya didepan kelas. Bersama seorang teman yang lain bernama Nia, perempuan. Akan kuceritakan sedikit mengenai Nia. Dahulu di hari pertamaku disekolah disini Nia adalah seorang yang agresif. Aku melihatnya dari bagaimana ia membentuk image-nya saat itu kepada teman-teman yang lain. Dia saat itu sangat, sangat atraktif, luwes, dan tebuka. Namun satu minggu kemudian dia berubah drastis ke arah berlawanan. Menjadi seorang yang introvert. Hingga hari ini. Tidak banyak yang menyadari hal tersebut. Entah apa penyebabnya. Kawan, bukankah barusan kukatakan bahwa ia menjadi introvert? Lalu bagaimana aku bisa tau apa penyebabnya.

Kini ada Nia, Mario, dan aku yang tengah berjalan ke arah taman kota dimana disana bisa ditemukan banyak bunga, kursi taman, dan pohon. Mengenai rencanaku hari ini, aku akan menuju ke pohon tersebut.

Pohon ini sangat rindang. Kukira berukuran 30 m keatas. Berdaun rimbun. Tidak ada daun berguguran. Pohon ini memiliki dahan yang layak panjat. Beberapa sisi dahan memiliki kulit yang telah terkelupas karena sering dipanjat. Di bagian puncak dari pohon dimana tidak ada dahan lagi yang dapat dinaiki aku menaruh sebuah kertas. Kertas ini bertuliskan,

“suatu hari aku membayangkan berjalan kaki ke gurun pasir. Tenggorokanku sesak dan kering. Aku berjalan mencari mata air. Aku berpikir disana harusnya ada binatang karena aku pun lapar. Aku ingin makan daging. Setelah 13 hari yang lalu aku tidak lagi mencicipi daging. Perbekalanku hanya tinggal satu tangkup roti tawar, dan beberapa butir berry. Aku meninggalkan dua orang temanku dibelakang. Sebelumnya aku berdebat dengan mereka, sengit. Karena kami memperebutkan bahan makanan. Akhirnya kami berpisah. Aku memutuskan berjalan terlebih dahulu karena aku pikir aku tidak membutuhkan bahan makanan mereka. Lagipula aku masih punya roti dan berry. Aku hanya butuh air. Sekarang aku berpikir negatif apa yang terjadi dibelakang. Apakah mereka masih hidup? Satu orang mati? Atau keduanya mati? Atau mungkin mereka berbalik arah? Nia dan Mario yang kukagumi. Apakah kalian tau apa yang terjadi pada kedua orang tersebut?”

Aku mengulurkan tangan dan lalu memecah keheningan.

“hompimpa?”

Nia, “buat apa?”

Mario, “Buat ambil itu?”

“hompimpa”

Hanya butuh satu kali hompimpa saja kami mendapatkan satu orang yang berbeda. Karena memang hanya bertiga. Kebetulan hompimpa mendelegasikan Mario untuk mengambil kertas tersebut.

Mario memanjati pohon tersebut dengan cekatan. Cepat ia menentukan dahan mana yang harus diinjak dan dahan mana yang harus ia gapai. 5 menit ia telah turun kembali, dengan kertas ditangannya. Lalu Nia dan Mario membaca bersamaan didalam hati. Lalu setelahnya ia saling menatap dan dilanjutkan dengan menatap kearahku

Aku berkata cepat.

“kalian kuberi waktu hingga besok sore”

Esok sore kami berjanji bertemu kembali di tempat yang sama. Pada pukul 10 malam. Namun Nia menolak karena dia perempuan. Sulit baginya untuk keluar pada pukul 10 malam.

Aku berkata, “kau tidak datang, maka kau akan menyesal”, dingin.

Lalu Nia bimbang. Gesturnya menunjukkan bahwa dia ingin namun tidak dapat menyanggupi. Tidak lama berpikir, lalu Mario berkata “biar aku yang menjaminmu kepada orangtuamu”

Nia, “bagaimana caranya?”

Mario, “aku akan menjemputmu, bertamu, lalu meminta izin kepada ayahmu untuk membawamu. Bagaimana?”

Nia, “aku tidak yakin”

Mario, “serahkan itu padaku”

Kemudian Nia berkata “baik”, sambil melirikku lalu berkata kepadaku “kehadiranku bergantung pada Mario”

Malam harinya aku telah menunggu mereka dibawah pohon. Tepat pukul 10 aku melihat Mario tiba tanpa Nia.

“apakah Nia tidak diizinkan keluar?”

“ya. Orangtuanya khawatir””

“lalu bagaimana. Apa selanjutnya?”

“selanjutnya? Tidak ada. Aku hanya ingin tau jawabanmu dari kertas itu”

“aku sepakat mereka bertengkar. Bertengkar hingga akhirnya mereka berpencar”

“apakah salah seorang dari mereka mengambil bahan makanan orang yang lainnya?”

“hmm..ya. Karena mereka bertengkar saat itu. Sebut saja orang A dan orang B. Mereka bertengkar karena hawatir bahan makanan mereka masing-masing tidak cukup ntuk melanjutkan perjalanan. Sehingga misalkan, orang A mengambil bahan makanan orang B, lalu A melanjutkan perjalanan sedangkan B ditinggal. Entah apa yang terjadi setelah A meninggalkan B. Karena bahan makanan B habis maka tidak lama setelah A meninggalkan B, B akan mati. Barangkali begitu”

“lalu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh A?

“orang A akan berjalan mencari mata air”

“apakah ia akan bertemu orang pertama yang lebih awal meninggalkan A dan B?”

“ya. Mungkin. Jika firasat mereka sama mengenai dimana mata air”

“jika mereka bertemu, apa yang akan terjadi?”

“mereka akan melanjutkan perjalanan bersama”

“kamu yakin?”

“… ya”

“lalu apa motif orang A meninggalkan B? Mengapa dia tidak konsisten?”

“tidak konsisten?”

“ya. Dia tidak konsisten, tidak peduli pada B dan mau melanjutkan perjalanan bersama orang pertama. Sebaliknya, apakah kau yakin apa yang dia lakukan tersebut adalah konsisten?”

“…”

“Apakah orang pertama akan aman berjalan bersama orang A?”

“mengapa tidak aman? Mereka dari awal memang sudah berencana akan melakukan perjalanan tersebut bukan?”

“ya, tapi kau sombong!”

“apa maksudmu!!?”

“mengapa kau tidak menjemput Nia!?”

Hari sebelumnya mereka membaca kertas tersebut secara bersama dalam hening. Meskipun mereka yang melakukan diskusi tawar menawar untuk menjemput Nia, namun mereka memahami hal yang berbeda.

Nia adalah seorang yang introvert, hingga saat ini. Karakter aslinya adalah dia seorang yang ekstrovert. Karakter asli muncul saat ada hal yang benar-benar mengganggu. Aku penasaran dengan hal tersebut. Dan kedatangan Mario kerumah untuk menemui orangtuanya ternyata sangat mengganggu Nia, sehingga memunculkan sikap aslinya. Jika tidak, maka semua akan jadi sangat sederhana, Nia akan tetap Nia yang introvert, maka dia tidak akan datang sendiri malam ini, melainkan menunggu Mario. Aku sambil menunjuk kearah belakang pohon sambil berlirih,

“Nia.”

Lalu nia muncul sambil berkata

“aku datang 10 menit sebelum jam 10 dan bertemu Roni. Roni menceritakan semua dugaannya. Dan mata air yang roni cari adalah..”

Nia melirik kearahku lalu melirik kembali kearah Mario

“ternyata kau benar-benar sombong. Kau sombong mario! Aku introvert krn keluargaku. Dan kau! Dibalik pencitraan baikmu, kau sombong. Dan ironi sekali, karena bahkan untuk hal seperti ini kau pun ingin mengungguliku!”

 

Epilog:

“Akulah orang pertama itu. Itulah mengapa tadi kukatakan kau tidak konsisten. Lihatlah, betapa hinanya kau meninggalkan Nia”

 

End

 

20:42 wib. 22/04/14. Dri

 

 

 

January 3, 2014

PENANTANG TERAKHIR

Scene 1

Cerita ini berawal dari dalam suatu keramaian. Perlahan bergeser melewati satu persatu orang yang berdempetan, menyelip, bahkan menunduk dengan ponselnya, hingga akhirnya keluar, dan keluar dari kerumunan tersebut, dan disanalah aku. Si penantang terakhir.

Acara ini telah kuikuti cukup lama, tiga bulan sebelum ini. Ada banyak yang bergabung. Tiap minggu satu trip. Tiap minggu ada yang tereliminasi. Hingga kini kami tergabung dalam komunitas, yang kami beri nama: kesetanan. Saat ini hanya tersisa dua orang.

3 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji nyali mas. Yang menang dapat Sepuluh Juta”

2 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji adrenalin mas. Yang ciut mending mundur. Masnya geseran kesana”

1 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji kewarasan mas. Bersyukur negara memfasilitasi kami”

Saat ini..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Saya terburu buru. Maaf”

Hanya aku sendiri disini melihat lekat pada kerumunan orang ‘disana’. Reporter ini mengganggu. Kali ini mereka benar-benar mengganggu. Krn terakhir kulihat video mereka di Youtube (dengan kepala kami disensor), mereka meladeni komentar para aktivis, aku menyebutnya aktivis kewarasan dan mereka melaknat kami. Kupikir, sudahlah jangan di publish lagi kami ini. Kami ini binatang. Ini kebutuhan kami.

Lalu aku berlari sekencang mungkin kearah kerumunan, sekencang kencangnya, hingga dua meter dari kerumunan aku melompat dan berencana agar mendarat tepat ditengah kerumunan tersebut. Sambil benar2 mendorong mereka kesana kemari hingga semua yang ada, apapun itu, termasuk orang didalamnya benar benar berantakan. Pejabat itu langsung ditarik kedalam oleh petugas dan aku belingsatan mulai melepaskan diri.

Setelahnya, aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh-jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 2

Ini alasanku hidup, barangkali. Bayangkan terdapat suatu kamera entah dimana dari angkasa luar sana, kemudian ia bergerak dengan kecepatan konstan memasuki wilayah bumi, masih dengan kecepatan yang sama menembus awan kemudian menuju ke wilayah NKRI tepatnya pulau jawa, tepatnya lagi cekungan bandung, tepatnya lagi jalan suci, terus menuju warung kopi diseberang ITENAS, kamera tersebut masuk kedalamnya masih dengan kecepatan konstan dan tiba-tiba berhenti tepat didepan sosokku yang tengah tersenyum dengan salah satu kaki dilipat di paha, secangkir kopi diatas meja, sebatang Djarum Super disudut bibir, gurat senyum seolah tanpa masalah (padahal tepat didepanku adalah masalah).

Ini sebenarnya bukanlah seperti hal yang diperdebatkan oleh banyak orang. Mengatasi kecemasan melalui ritual warung kopi. Namun lebih dari itu ini hanya penghargaan baginya, seorang penjual kopi bau tanah, yang dunia telah lalu lalang didepannya, sementara disaat yang bersamaan ia hidup sebagaimana mestinya; tenang dan mengalir.

Dia orang paling tua di sekitar sini, sebelum keributan ini kuawali aku harus membuat penghormatan yang manis kepada orang yang paling tua. Penghargaan. Sebagai info tambahan, ini barangkali bisa digeneralkan, warung kopi terbaik, hanya dihuni oleh orang senior yang hidupnya telah mengakar dalam silih bergantinya peradaban. Dalam ekivalensi sebaliknya, para tetua dapat ditemui simply pada sebuah warung kopi terbaik. Sederhana.

Aku lalu berpamitan dengan tenang, melalui membayar harga kopi dan beberapa batang Djarum Super yang tadi kumakan. Jangan bayangkan pamitanku layaknya sepasang gesture dua orang yang benar-benar kontak satu sama lain. Sekali lagi sesederhana pembayaran. Begitulah.

Siang itu lajur ini ramai lancar, maksudku adalah ramai dan disaat bersamaan adalah lancar. Kalian tau bagaimana cara membayangkan kondisi yang kumaksud? (tanpa merujuk pada teori transportasi). Keramaian ini cukup membuatku hanya sekedar mendorong-dorongkankan badan beberapa kali saat mencoba menyeberang ke seberang sana. Lebih kurang demikian.

Reporter: “Bagaimana?”
Aku: “Apanya?”
Reporter: “Apa mau lanjut?”
Aku: “Bagaimana denganmu?”
Reporter: “Apanya”
Aku: “Apa mau lanjut?”
Reporter: “Dengan senang hati melihat kau mati”
Aku: “Begitu pula denganku”

Jika kalian paham, maksud kalimat terakhirku adalah, “Aku pun akan dengan senang hati pula melihatku mati”

Belum juga motor ini kunyalakan, RX-King, motor maling. Aku masih melirik tenang kepada jalanan. Barulah motor ku-engkol, beberapa kali, baru menyala. Lalu menunggu sebentar, sekedar hanya untuk memanaskan mesinnya, sekedarnya.

Barulah..

Gas ku sentak, motor pun sedikit melompat, tepat sekitar 2 meter kedepan lalu motor kubelokkan kekanan, lalu aku gas, sesuai kontrakku 40 km/jam. Bagaimana aku tau itu  40 km/jam? Duniaku gelap dahulu. Aku tahu bagaimana motor ini seukuran 40 km/jam.

Aku melesat, terus, terus, dan terus hingga, kontrakku, simpang lampu merah diujung sana. Selanjutnya hand-brake banting kiri, motor sliding sambil aku melepaskan tunggangan tersebut.

Setelahnya aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 3

Satu minggu setelahnya aku menemui mereka berdua. Aku putuskan untuk seri. Itu hak-ku. Aku membayar mereka untuk mendengar dan menerima apa yang kumau.

A: “Apa rencanamu”
B: “Mesti ada yang terbaik”
Aku: “Tidak ada pemenang dari final battle round”

Keduanya asik dengan mereka masing-masing

Aku: “Kali ini mesti ada”

Keduanya mulai melirik

Aku: “Kalian menantang tantangan orang lainnya, begitu sebaliknya”
A: “Menarik”
B: “Bagaimana denganmu?”
Aku: “Aku hanya menunggu kabar”
Aku: “Habiskan kopimu, jika masih ingin disini silahkan”

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

Lalu suatu hari mereka menghubungiku kembali. Dan kami bertemu.

A: “Kami menyerah”
B: “Bagaimana logikamu kami tidak dapat paham”
Aku: “Bagaimana bisa kalian menyerah”
A: “Kami menantang tantangan orang lainnya maksudmu?”
Aku: “Tepat”
B: “Tantangan yang saling menantang satu sama lain? Kau bercanda. Kami tidak bisa”
Aku: “Jika demikian aku yang menang, sekaligus mengalahkan kalian berdua”
A: “Kenapa tidak dari awal saja kau katakan demikian?”
B: “Kau membayar kami untuk mendengar dan menerima apa yang kau mau”
Aku: “Tepat. Kalian dibayar untuk itu. Namun sekarang aku tidk membayar salah satu kalian. Aku membayar diriku sendiri. Krn aku pemenang.”

Tidak ada kalimat apapun setelah itu. Kami asik dengan diri kami masing-masing dan saling menukar rokok satu sama lain, dan sama yang lainnya lagi. Lalu masing-masing membakarnya. Setelah itu, aku hanya berkata “Sampai ketemu lagi” sambil mengangkat tangan kemudian berlalu.

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

 

December 24, 2013

25Des

Dear *** dan *******

Aku bukan orang yg paham betul soal hukum agama. Yg bisa dipastikan bahwa aku menjalani agama. Kenyataan bahwa pengetahuan dan wawasan yg tidak cukup namun ttp tidak ingin berlogika. Takut tidak pantas.

Anyway. Aku menjalani kewajiban agama dengan caraku dan dengan apa yg kupahami. Dan menolak berselisih bahkan berkomentar dengan bagaimana cara org menjalankan agama mereka. Satu hal, krn kurangnya wawasan dangan pengetahuan, sehingga aku pun menolak membangkang dengan hukum agama.

Bukan sebuah ucapan selamat, barangkali. Namun yg kalian harus paham adl, aku pun turut berbahagia krn klian pun bahagia. Tidak ada lagi ungkapan respek yg pantas diucapkan selain ungkapan kesamaan rasa. Disatu hal, klise dg ucapan selamat, yg kebanyakan berbungkus pita yg cantik namun kosong tanpa simpati

Sekian
^^

November 8, 2013

7 Fakta menarik tentang efek kafein pada tubuh

Jumat, 8 November 2013 10:13:00
Reporter : Kun Sila Ananda

7 Fakta menarik tentang efek kafein pada tubuh
 
Selama beberapa tahun, peneliti dan ilmuwan terus memperhatikan efek kafein pada tubuh. Hingga saat ini, peneliti masih tak pasti apakah kafein baik atau buruk. Pasalnya, kafein bisa memberikan efek buruk dan juga efek baik pada tubuh manusia.

Apa yang bisa terjadi pada tubuh setelah minum kafein? Ini dia faktanya, seperti dilansir oleh Mag for Women.

1. Efek kafein sangat bergantung pada tubuh dan sistem saraf seseorang. Tak hanya itu, efek kafein juga dipengaruhi oleh berat badan, jenis kelamin, dan faktor lainnya. Namun yang perlu diketahui adalah bahwa efek kafein akan terus bertahan selama delapan jam.

2. Sangat jelas bahwa kafein mempengaruhi jantung dan darah. Kafein yang mulai masuk ke pembuluh darah akan membuat jantung berdetak lebih kencang dan memompa darah lebih cepat. Untuk itu, kafein sangat berbahaya bagi orang yang memiliki hipertensi atau tekanan darah tinggi. Mengonsumsi banyak kafein bisa menyebabkan mereka mengalami stroke.

3. Kebanyakan produk kafein seperti kopi, cokelat, dan teh juga mengandung antioksidan yang bisa mencegah penuaan dan bahkan kanker. Selain itu, produk yang mengandung kafein juga mengandung asam lemak dan beberapa vitamin. Pada sisi ini, kafein bisa memberikan manfaat bagi tubuh manusia.

4. Namun kafein juga bisa memberikan dampak negatif bagi tubuh. Kafein bisa mengganggu proses pencernaan dengan menenangkan otot-otot pencernaan. Hal ini membuat proses pencernaan berjalan lambat. Untuk itu, sebaiknya hindari minum teh atau kopi setelah makan. Setidaknya tunggu sampai setengah jam atau satu jam setelah makan jika Anda ingin menikmati minuman atau makanan yang mengandung kafein, termasuk beberapa jenis obat yang diketahui mengandung kafein.

5. Kafein jelas mempengaruhi sistem saraf. Terlalu banyak mengonsumsi kafein juga bisa memberikan dampak yang ekstrem seperti tangan yang terus bergetar, merasa pusing dan mual, atau merasa cemas sepanjang waktu.

6. Kebanyakan orang mengonsumsi minuman berkafein dengan gula. Hal ini sebenarnya tak baik karena akan menyusahkan kerja pankreas. Pankreas akan memproduksi lebih banyak insulin untuk mencerna gula tersebut sehingga akan terjadi lonjakan insulin pada tubuh dan darah. Hal ini tentunya tak baik, terutama bagi penderita diabetes.

7. Efek kafein pada tubuh terkadang mirip dengan stres. Untuk itu, jika Anda sudah banyak mengalami stres, sebaiknya tak usah mengonsumsi kafein. Karena bisa jadi tubuh Anda akan mengalami stres ganda akibat kafein yang dikonsumsi.

Itulah beberapa efek kafein pada tubuh. Ada efek positif, namun juga ada efek negatif. Selama Anda mengetahui takaran yang baik untuk mengonsumsi kafein, tak masalah untuk meminumnya. Namun perhatikan agar konsumsi kafein tak sampai berlebihan dan merusak kesehatan Anda.

http://m.merdeka.com/sehat/7-fakta-menarik-tentang-efek-kafein-pada-tubuh.html

October 4, 2013

Lapangan segitiga

Pagi ini kembali bertemu dengannya. Seperti bertumpuk rindu. Dan memang begitu. Merindu yang membuatmu haru. Dan kalian menangis

Lapangan segitiga. Apakah benar begitu adanya? Hanya ingin menangis. Spt tadi. Knp tidak bisa? Ini sangat sakit

Snp
5/10/2013
~04.00 wita

January 13, 2013

Dancing Queen

Mungkin ini hanya bercanda. Jika kau membacanya, maafkan. Lupakan tulisan ini.

You’re the dancing queen. Like ABBA told us. Termasuk lirik didalamnya. Simply, I miss that.

January 11, 2013

In Harmonia

Setibanya kau disana. Kau gigit itu rumput gan! Kau camkan rasanya, lalu berdoa kau setelah itu. Ingat negaramu!!

Tributed to fella.

January 6, 2013

Gagasan

Ada banyak cara bagaimana suatu gagasan terbentuk. Bagaimana cara yang paling ideal, menurut hemat saya, sebuah gagasan berawal?

Manusia memiliki pikiran, akal. Yang membedakan mereka dengan makhluk lainnya. Setiap saat kita berpikir. Terlebih pada saat kita mendapatkan stimulus. Stimulus hari ini muncul dengan cara yang acak, random. Stimulus tersebut tentunya tidak berurutan.

Pengalaman membekali kita suatu point of view dan frame berpikir. Melalui belajar banyak hal, kita dapat mengaitkan banyak hal dengan lugas. Dan dengan cepat pula kita dapat mengeliminasi stimulus atau informasi yang tidak penting.

Mengapa ada informasi yang tidak penting. Seorang guru pernah berkata, “informasi itu seperti tubuh, ada otot, tulang, dsb. Namun adapun ‘fat’ adalah informasi yang tidak penting”. Dapat diketahui bahwa fat harus dibakar. Dan bukan berarti pula fat tersebut tidak berguna. Ia digunakan untuk sumber energi setelah karbohidrat yg digunakan habis. Oleh karenanya, fat dalam konteks informasi pun berguna untuk memberi backup terhadap maksud dari informasi. Akan tetapi, tetap harus dibakar.

Setelah kita dapat mengaitkan berbagai stimulus tersebut, barulah kita kemudian dapat mengeliminasi fat tersebut, sampai akhirnya kita menemukan the whole point dari the whole random information. Akan selalu ada point penting dari sekelumit stimulus yang berdatangan. Dan tentunya hal ini dapat 1,2,3.. Sebanyak suatu deret aritmatika.

Point yang dimaksudkan tersebutlah yang kita sebut gagasan. Gagasan, yang dapat berupa suatu hal resesif maupun heroik yang itu kemudian dapat dijabarkan melalui pandangan bahkan sikap.

Happy sunday.