Archive for ‘Story telling’

April 22, 2014

Roti dan Berry

Inilah kisah seorang mafia. Aku.

Sejak kali pertama aku melihat bedebah itu, aku langsung tau bahwa disini akan jadi menyenangkan bersamanya. Hingga saat ini tidak banyak yang kutahu tentangnya. Namun satu hal yang jelas, bahwa dia adalah seorang yang sombong.

Mari ikuti pembuktianku.

Sebagaimana selayaknya seorang yang demikian (sombong), mereka selalu menempatkan posisinya diatas yang lainnya, dia punya cerita yang selalu diatas cerita yang lainnya. Dan terakhir, mereka selalu berkilah bahwa kebenaran akan selalu miliknya.

Adalah mario, seorang anak pria yang akan kuceritakan kali ini. Dia hidup dari kalangan biasa, makan selayaknya seperti orang biasa, dan melakukan banyak hal sebagaimana orang biasa. Yang tidak biasa adalah bahwa ia ingin sekali lekas menjadi orang yang luar biasa. Melampaui batas kewajaran manusiawi.

Apa itu luar biasa dalam kacamataku. Adalah mereka yang extraordinary. Memiliki hal lebih yang tidak dimiliki orang lain yang itu adalah anugerah yang mampu ia optimalkan. Namun bagaimana luar biasa dalam versi mereka? Setelah kusimpulakan definisinya adalah sebagai berikut; 1)Bagaimana orang agar tidak lebih dari dirinya, 2)Bagaimana agar orang menghormatinya, 3)Bagaimana seterusnya ia mampu meninggalkan orang lainnya, sejauh mungkin.

Aku sangat ulet melakukan observasi. Sering sekali aku menatap terlalu lama terhadap objek yang aku amati yang kemudian ditutup dengan berpikir. Berpikir keras. Hingga sangat keras. Untuk mengkorelasikan banyak hal. Barangkali ini adalah anugerah bagiku karena semua rangkaian tersebut terjadi begitu saja tanpa aku rencanakan. Apakah aku sombong. Tidak. Krn bukan kalian patokanku.

Tepat sekali. Perbedaan antara definisi luar biasa yang kita miliki dan mereka tersebut miliki adalah titik referensi, atau acuan. Mereka seolah berkata “apapun itu, semua adalah mengenai mereka”. Berpatok kepada orang lain dan bukan dia. Subjektif. Sedangkan definisiku adalah bagaimana aku bisa menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik. Tidak perduli apakah orang lebih baik dariku atau bukan. Objektif. See, bukannkah itu merupakan sikap tidak-sombong. Karena memang aku bukan orang yang sombong.

Mario kemudian menjadi keluhan banyak orang. Mulai dari langkahnya, bagaimana ia menyuap makan, bagaimana ia melirik, bagaimana gesur bibirnya saat berbicara, bagaimana dia saat mengikat tali sepatunya, bagaimana ia mengangkat tong sampah itu!, bahkan bagaimana ia tersenyum saat bersepeda.

Setiap hari ia bersepeda ke sekolah ini. Kemudian parkir pada parkir sepeda yang tersedia. Hanya menggunakan satu slot seperti yang lainnya. Selanjutnya ia berjalan melewati lorong seperti aku yang kini tengah berjalan disebelahnya.

“hai mario”

“hai roni”

“bagaimana dengan tugas fisika?”

“selesai. Bagaimana denganmu?”

“selesai”

“nanti sore kau ada acara mario?”

“belum ada. ada apa?”

“Tidak. Hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jika kau ada waktu”

“bisa. Aku bisa. Kau yang pertama hari ini. Bagaimana aku menolak”

“terimakasih”

“jam 4 aku keluar kelas. Kabari aku”

“aku menunggu di depan kelasmu”

“baik. Sampai nanti”

“sampai nanti”

Apakah kalian merasa ada yang tidak wajar dari pembicaraan barusan? Yang jelas aku bukan tipikal penyuka sesama jenis. Orang bilang aku dingin. Namun disaat yang sama orang bilang aku bersahabat. Jika dikalkulasi secara matematis, ‘dingin’ ditambah ‘bersahabat’ akan menghasilkan ‘konsisten’. Silahkan kalian melihat ke langit-langit tempat kalian berada saat ini lalu memikirkan bagaimana kesamaan matematis ini dpat terjadi dengan me-reka-reka bagaimana aku melakukan dingin dan disaat bersaman juga bersahabat tersebut.

Sore hari aku menunggunya didepan kelas. Bersama seorang teman yang lain bernama Nia, perempuan. Akan kuceritakan sedikit mengenai Nia. Dahulu di hari pertamaku disekolah disini Nia adalah seorang yang agresif. Aku melihatnya dari bagaimana ia membentuk image-nya saat itu kepada teman-teman yang lain. Dia saat itu sangat, sangat atraktif, luwes, dan tebuka. Namun satu minggu kemudian dia berubah drastis ke arah berlawanan. Menjadi seorang yang introvert. Hingga hari ini. Tidak banyak yang menyadari hal tersebut. Entah apa penyebabnya. Kawan, bukankah barusan kukatakan bahwa ia menjadi introvert? Lalu bagaimana aku bisa tau apa penyebabnya.

Kini ada Nia, Mario, dan aku yang tengah berjalan ke arah taman kota dimana disana bisa ditemukan banyak bunga, kursi taman, dan pohon. Mengenai rencanaku hari ini, aku akan menuju ke pohon tersebut.

Pohon ini sangat rindang. Kukira berukuran 30 m keatas. Berdaun rimbun. Tidak ada daun berguguran. Pohon ini memiliki dahan yang layak panjat. Beberapa sisi dahan memiliki kulit yang telah terkelupas karena sering dipanjat. Di bagian puncak dari pohon dimana tidak ada dahan lagi yang dapat dinaiki aku menaruh sebuah kertas. Kertas ini bertuliskan,

“suatu hari aku membayangkan berjalan kaki ke gurun pasir. Tenggorokanku sesak dan kering. Aku berjalan mencari mata air. Aku berpikir disana harusnya ada binatang karena aku pun lapar. Aku ingin makan daging. Setelah 13 hari yang lalu aku tidak lagi mencicipi daging. Perbekalanku hanya tinggal satu tangkup roti tawar, dan beberapa butir berry. Aku meninggalkan dua orang temanku dibelakang. Sebelumnya aku berdebat dengan mereka, sengit. Karena kami memperebutkan bahan makanan. Akhirnya kami berpisah. Aku memutuskan berjalan terlebih dahulu karena aku pikir aku tidak membutuhkan bahan makanan mereka. Lagipula aku masih punya roti dan berry. Aku hanya butuh air. Sekarang aku berpikir negatif apa yang terjadi dibelakang. Apakah mereka masih hidup? Satu orang mati? Atau keduanya mati? Atau mungkin mereka berbalik arah? Nia dan Mario yang kukagumi. Apakah kalian tau apa yang terjadi pada kedua orang tersebut?”

Aku mengulurkan tangan dan lalu memecah keheningan.

“hompimpa?”

Nia, “buat apa?”

Mario, “Buat ambil itu?”

“hompimpa”

Hanya butuh satu kali hompimpa saja kami mendapatkan satu orang yang berbeda. Karena memang hanya bertiga. Kebetulan hompimpa mendelegasikan Mario untuk mengambil kertas tersebut.

Mario memanjati pohon tersebut dengan cekatan. Cepat ia menentukan dahan mana yang harus diinjak dan dahan mana yang harus ia gapai. 5 menit ia telah turun kembali, dengan kertas ditangannya. Lalu Nia dan Mario membaca bersamaan didalam hati. Lalu setelahnya ia saling menatap dan dilanjutkan dengan menatap kearahku

Aku berkata cepat.

“kalian kuberi waktu hingga besok sore”

Esok sore kami berjanji bertemu kembali di tempat yang sama. Pada pukul 10 malam. Namun Nia menolak karena dia perempuan. Sulit baginya untuk keluar pada pukul 10 malam.

Aku berkata, “kau tidak datang, maka kau akan menyesal”, dingin.

Lalu Nia bimbang. Gesturnya menunjukkan bahwa dia ingin namun tidak dapat menyanggupi. Tidak lama berpikir, lalu Mario berkata “biar aku yang menjaminmu kepada orangtuamu”

Nia, “bagaimana caranya?”

Mario, “aku akan menjemputmu, bertamu, lalu meminta izin kepada ayahmu untuk membawamu. Bagaimana?”

Nia, “aku tidak yakin”

Mario, “serahkan itu padaku”

Kemudian Nia berkata “baik”, sambil melirikku lalu berkata kepadaku “kehadiranku bergantung pada Mario”

Malam harinya aku telah menunggu mereka dibawah pohon. Tepat pukul 10 aku melihat Mario tiba tanpa Nia.

“apakah Nia tidak diizinkan keluar?”

“ya. Orangtuanya khawatir””

“lalu bagaimana. Apa selanjutnya?”

“selanjutnya? Tidak ada. Aku hanya ingin tau jawabanmu dari kertas itu”

“aku sepakat mereka bertengkar. Bertengkar hingga akhirnya mereka berpencar”

“apakah salah seorang dari mereka mengambil bahan makanan orang yang lainnya?”

“hmm..ya. Karena mereka bertengkar saat itu. Sebut saja orang A dan orang B. Mereka bertengkar karena hawatir bahan makanan mereka masing-masing tidak cukup ntuk melanjutkan perjalanan. Sehingga misalkan, orang A mengambil bahan makanan orang B, lalu A melanjutkan perjalanan sedangkan B ditinggal. Entah apa yang terjadi setelah A meninggalkan B. Karena bahan makanan B habis maka tidak lama setelah A meninggalkan B, B akan mati. Barangkali begitu”

“lalu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh A?

“orang A akan berjalan mencari mata air”

“apakah ia akan bertemu orang pertama yang lebih awal meninggalkan A dan B?”

“ya. Mungkin. Jika firasat mereka sama mengenai dimana mata air”

“jika mereka bertemu, apa yang akan terjadi?”

“mereka akan melanjutkan perjalanan bersama”

“kamu yakin?”

“… ya”

“lalu apa motif orang A meninggalkan B? Mengapa dia tidak konsisten?”

“tidak konsisten?”

“ya. Dia tidak konsisten, tidak peduli pada B dan mau melanjutkan perjalanan bersama orang pertama. Sebaliknya, apakah kau yakin apa yang dia lakukan tersebut adalah konsisten?”

“…”

“Apakah orang pertama akan aman berjalan bersama orang A?”

“mengapa tidak aman? Mereka dari awal memang sudah berencana akan melakukan perjalanan tersebut bukan?”

“ya, tapi kau sombong!”

“apa maksudmu!!?”

“mengapa kau tidak menjemput Nia!?”

Hari sebelumnya mereka membaca kertas tersebut secara bersama dalam hening. Meskipun mereka yang melakukan diskusi tawar menawar untuk menjemput Nia, namun mereka memahami hal yang berbeda.

Nia adalah seorang yang introvert, hingga saat ini. Karakter aslinya adalah dia seorang yang ekstrovert. Karakter asli muncul saat ada hal yang benar-benar mengganggu. Aku penasaran dengan hal tersebut. Dan kedatangan Mario kerumah untuk menemui orangtuanya ternyata sangat mengganggu Nia, sehingga memunculkan sikap aslinya. Jika tidak, maka semua akan jadi sangat sederhana, Nia akan tetap Nia yang introvert, maka dia tidak akan datang sendiri malam ini, melainkan menunggu Mario. Aku sambil menunjuk kearah belakang pohon sambil berlirih,

“Nia.”

Lalu nia muncul sambil berkata

“aku datang 10 menit sebelum jam 10 dan bertemu Roni. Roni menceritakan semua dugaannya. Dan mata air yang roni cari adalah..”

Nia melirik kearahku lalu melirik kembali kearah Mario

“ternyata kau benar-benar sombong. Kau sombong mario! Aku introvert krn keluargaku. Dan kau! Dibalik pencitraan baikmu, kau sombong. Dan ironi sekali, karena bahkan untuk hal seperti ini kau pun ingin mengungguliku!”

 

Epilog:

“Akulah orang pertama itu. Itulah mengapa tadi kukatakan kau tidak konsisten. Lihatlah, betapa hinanya kau meninggalkan Nia”

 

End

 

20:42 wib. 22/04/14. Dri

 

 

 

January 3, 2014

PENANTANG TERAKHIR

Scene 1

Cerita ini berawal dari dalam suatu keramaian. Perlahan bergeser melewati satu persatu orang yang berdempetan, menyelip, bahkan menunduk dengan ponselnya, hingga akhirnya keluar, dan keluar dari kerumunan tersebut, dan disanalah aku. Si penantang terakhir.

Acara ini telah kuikuti cukup lama, tiga bulan sebelum ini. Ada banyak yang bergabung. Tiap minggu satu trip. Tiap minggu ada yang tereliminasi. Hingga kini kami tergabung dalam komunitas, yang kami beri nama: kesetanan. Saat ini hanya tersisa dua orang.

3 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji nyali mas. Yang menang dapat Sepuluh Juta”

2 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji adrenalin mas. Yang ciut mending mundur. Masnya geseran kesana”

1 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji kewarasan mas. Bersyukur negara memfasilitasi kami”

Saat ini..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Saya terburu buru. Maaf”

Hanya aku sendiri disini melihat lekat pada kerumunan orang ‘disana’. Reporter ini mengganggu. Kali ini mereka benar-benar mengganggu. Krn terakhir kulihat video mereka di Youtube (dengan kepala kami disensor), mereka meladeni komentar para aktivis, aku menyebutnya aktivis kewarasan dan mereka melaknat kami. Kupikir, sudahlah jangan di publish lagi kami ini. Kami ini binatang. Ini kebutuhan kami.

Lalu aku berlari sekencang mungkin kearah kerumunan, sekencang kencangnya, hingga dua meter dari kerumunan aku melompat dan berencana agar mendarat tepat ditengah kerumunan tersebut. Sambil benar2 mendorong mereka kesana kemari hingga semua yang ada, apapun itu, termasuk orang didalamnya benar benar berantakan. Pejabat itu langsung ditarik kedalam oleh petugas dan aku belingsatan mulai melepaskan diri.

Setelahnya, aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh-jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 2

Ini alasanku hidup, barangkali. Bayangkan terdapat suatu kamera entah dimana dari angkasa luar sana, kemudian ia bergerak dengan kecepatan konstan memasuki wilayah bumi, masih dengan kecepatan yang sama menembus awan kemudian menuju ke wilayah NKRI tepatnya pulau jawa, tepatnya lagi cekungan bandung, tepatnya lagi jalan suci, terus menuju warung kopi diseberang ITENAS, kamera tersebut masuk kedalamnya masih dengan kecepatan konstan dan tiba-tiba berhenti tepat didepan sosokku yang tengah tersenyum dengan salah satu kaki dilipat di paha, secangkir kopi diatas meja, sebatang Djarum Super disudut bibir, gurat senyum seolah tanpa masalah (padahal tepat didepanku adalah masalah).

Ini sebenarnya bukanlah seperti hal yang diperdebatkan oleh banyak orang. Mengatasi kecemasan melalui ritual warung kopi. Namun lebih dari itu ini hanya penghargaan baginya, seorang penjual kopi bau tanah, yang dunia telah lalu lalang didepannya, sementara disaat yang bersamaan ia hidup sebagaimana mestinya; tenang dan mengalir.

Dia orang paling tua di sekitar sini, sebelum keributan ini kuawali aku harus membuat penghormatan yang manis kepada orang yang paling tua. Penghargaan. Sebagai info tambahan, ini barangkali bisa digeneralkan, warung kopi terbaik, hanya dihuni oleh orang senior yang hidupnya telah mengakar dalam silih bergantinya peradaban. Dalam ekivalensi sebaliknya, para tetua dapat ditemui simply pada sebuah warung kopi terbaik. Sederhana.

Aku lalu berpamitan dengan tenang, melalui membayar harga kopi dan beberapa batang Djarum Super yang tadi kumakan. Jangan bayangkan pamitanku layaknya sepasang gesture dua orang yang benar-benar kontak satu sama lain. Sekali lagi sesederhana pembayaran. Begitulah.

Siang itu lajur ini ramai lancar, maksudku adalah ramai dan disaat bersamaan adalah lancar. Kalian tau bagaimana cara membayangkan kondisi yang kumaksud? (tanpa merujuk pada teori transportasi). Keramaian ini cukup membuatku hanya sekedar mendorong-dorongkankan badan beberapa kali saat mencoba menyeberang ke seberang sana. Lebih kurang demikian.

Reporter: “Bagaimana?”
Aku: “Apanya?”
Reporter: “Apa mau lanjut?”
Aku: “Bagaimana denganmu?”
Reporter: “Apanya”
Aku: “Apa mau lanjut?”
Reporter: “Dengan senang hati melihat kau mati”
Aku: “Begitu pula denganku”

Jika kalian paham, maksud kalimat terakhirku adalah, “Aku pun akan dengan senang hati pula melihatku mati”

Belum juga motor ini kunyalakan, RX-King, motor maling. Aku masih melirik tenang kepada jalanan. Barulah motor ku-engkol, beberapa kali, baru menyala. Lalu menunggu sebentar, sekedar hanya untuk memanaskan mesinnya, sekedarnya.

Barulah..

Gas ku sentak, motor pun sedikit melompat, tepat sekitar 2 meter kedepan lalu motor kubelokkan kekanan, lalu aku gas, sesuai kontrakku 40 km/jam. Bagaimana aku tau itu  40 km/jam? Duniaku gelap dahulu. Aku tahu bagaimana motor ini seukuran 40 km/jam.

Aku melesat, terus, terus, dan terus hingga, kontrakku, simpang lampu merah diujung sana. Selanjutnya hand-brake banting kiri, motor sliding sambil aku melepaskan tunggangan tersebut.

Setelahnya aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 3

Satu minggu setelahnya aku menemui mereka berdua. Aku putuskan untuk seri. Itu hak-ku. Aku membayar mereka untuk mendengar dan menerima apa yang kumau.

A: “Apa rencanamu”
B: “Mesti ada yang terbaik”
Aku: “Tidak ada pemenang dari final battle round”

Keduanya asik dengan mereka masing-masing

Aku: “Kali ini mesti ada”

Keduanya mulai melirik

Aku: “Kalian menantang tantangan orang lainnya, begitu sebaliknya”
A: “Menarik”
B: “Bagaimana denganmu?”
Aku: “Aku hanya menunggu kabar”
Aku: “Habiskan kopimu, jika masih ingin disini silahkan”

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

Lalu suatu hari mereka menghubungiku kembali. Dan kami bertemu.

A: “Kami menyerah”
B: “Bagaimana logikamu kami tidak dapat paham”
Aku: “Bagaimana bisa kalian menyerah”
A: “Kami menantang tantangan orang lainnya maksudmu?”
Aku: “Tepat”
B: “Tantangan yang saling menantang satu sama lain? Kau bercanda. Kami tidak bisa”
Aku: “Jika demikian aku yang menang, sekaligus mengalahkan kalian berdua”
A: “Kenapa tidak dari awal saja kau katakan demikian?”
B: “Kau membayar kami untuk mendengar dan menerima apa yang kau mau”
Aku: “Tepat. Kalian dibayar untuk itu. Namun sekarang aku tidk membayar salah satu kalian. Aku membayar diriku sendiri. Krn aku pemenang.”

Tidak ada kalimat apapun setelah itu. Kami asik dengan diri kami masing-masing dan saling menukar rokok satu sama lain, dan sama yang lainnya lagi. Lalu masing-masing membakarnya. Setelah itu, aku hanya berkata “Sampai ketemu lagi” sambil mengangkat tangan kemudian berlalu.

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

 

August 21, 2012

One in a million days (1)

Seperti layaknya banyak orang berkata, “saya ingin hidup bahagia”. Well, ini justru adalah awal dari segala irisan kehidupan. Gw rasa demikian karena ibarat dua muka mata uang, kalian tau mengapa ia selalu dijadikan alat penentu keputusan, karena kedua muka tersebut saling mutually exclusive. Begitu pula dengan dadu. Kedua hal barusan tidak memiliki irisan.

Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa selalu mendambakan kehidupan yang bahagia. Yaitu kehidupan yang bebas dari permasalahan. Memiliki apa-apa yang terbaik yang dapat seseorang miliki. Serta lekatnya kebutuhan orang kepada diri sehingga orang begitu sangat menghormati kita.

Begitukah?

Hahaha..banyak orang tidak mengelak untuk mengiyakan hal tersebut. Tetapi beberapa yang lain justru tidak ingin terlibat dengan kelumit cerita diatas. Ia hanya peduli bagaimana ia dapan menjada zona nyamannya.

Gw menyukai seorang wanita. Aneh memang mengenai kebahagiaan yang satu ini. Mengapa aneh, karena semakin gw tak dapat menjangkaunya semakin gw menjadi penasaran. Semakin gw penasaran semakin sulit untuk tidak memikirkannya. Nonsen? Sebut saja demikian, oleh karenanya gw memberi judul tulisan ini dengan One in a million days.

Semua ini gw anggap saja sebagai momen yang cuma datang seketika, tepat dan harus dinikmati dengan baik dengan degup dan hirupan napas yang dalam dan panjang, serta sambil memejamkan mata.

-To be continued-

July 10, 2012

Suratku-padanya

Aku punya cerita mengenai aku dan dia. Dari awal aku menemukannya. Kuajari dia melihat dunia. Kuajari dia bercerita. Kuajari dia tidak meminta. Kuajari dia dewasa.

Aku melepasnya. Entah bagaimana kabarnya di luar sana. Sayup-sayup hanya kuperhatikan saja dari kejauhan. Satu hal yang ku tahu, ia tumbuh semakin dewasa. Dia belajar banyak. Tanpaku. Dari kejauhan senyumku kusampaikan padanya. Kurasa tanpa ia merasa.

Hingga suatu hari janjiku kusampaikan padanya. Dan hanya dia lah orang satu-satunya. Datang memberiku buah ajarku. Memberiku semangat. Memberiku decak senyumku yang kutitipkan padanya.

Aku bangga padanya. Layaknya kebanggaan ku terhadap sekuntum bunga yang dlu pernah kutanam. Dan kini telah memberikan wangi kepada udara.

Aku harus pergi. Suatu hari aku harus temukanmu kembali. Sayonara lil sista.

10 juli 2012
15:28

April 27, 2012

‘tmn gw’

Apa yang dilakukan oleh tmen gw saat ini? Beliau tengah menggaruk2 gw dan berenang diantara kedua tungkai gw.

Perlu di catat saat ini adalah pukul 02.47 dini hari. Beliau, yang bersangkutan, masih tampak tdk ngantuk..

Ah, yasudah, selamat tidur kawan.

March 16, 2012

Why dogs hate cats

Semalem ada kucing menerabas kamar gw. seolah mencari atau mungkin meminta gw melakukan sesuatu. Si kucing rewel sekali.

1. tas gw di garuk

2. kotak buku gw di tiup-tiup

3. tas gw di garuk lagi

4. giliran kaki gw yang di jilat

5. lalu doi manjat dan mondar mandir di paha gw

6. sembari diatas paha, gw gatau apa maksudnya, seolah ingin mencium wajah gw. gw mengelak

7. lalu berdiri diatas laptop gw

8. gw berikan dia tutup kerdus doi kejar cuma ga dipakai. sepertinya dia tertarik dengan ketertarikan gw saat itu. kucing hebat

9. doi manjat lagi, dan kali ini mouse gw yang coba diendus

10. naik ke kasur kemudian turun

11. gw bergerak kearah pintu kamar, gw diikutin

…….

104. gw baring kekasur, doi ikutan

105. gw tutup hidung pake selimut, si kucing malah naik keatas selimutnya dan liatin muka gw lama

106. makin dekat ke muka gw

107. muka gw tutup pake selimut

108. si kucing mondar-mandir di kasur

109. kucing duduk, jilat sana sini, dengan suara yang seolah setelah doi jilat badannya dia akan jilat muka gw. gw bergeser sedikit. dengan tdk ingin terlihat memberikan ancaman

110. kucing menatap langit-langit dengan tatapan teduh

111. kucing naik ke atas bantal, persis disebelah kepala gw

112. kucing turun ke sebelah badan gw, lalu baring, lalu jilat sana-sini kembali

…..

278. tangan gw di gigit dan di cakar

279. berbekas berupa garis pada tangan kanan

……

532. kucing terlihat tertidur bersandar di badan gw

533. yasudah, baguslah.

…..

716. gw bangun, doi ilang

….

851. gw bersih2 bulu kucing

852. astaga, apa yg gw lakukan

-sekian-

March 7, 2012

Rusta 5

Tidak ada yang dpt menarik perhatiannya. Kecuali satu hal waktu itu..

Saat ia berjalan, sayup-sayup ia mendengar funky kopral – cassanova..

Ia berhenti, mendengarkan lagu tersebut hingga selesai..lalu lanjut berjalan kembali.

March 6, 2012

Rusta 4

Jangan salahkan rusta yang tidak pernah memilih atas, bawah, kanan, ataupun kiri.

Dari kecil ia tidak pernah memilih. Misal: ketua kelas, ketua keamanan kelas, jadi keeper, jadi striker, jadi juara, atau jadi orang yang di cinta.

Beberapa waktu yang lalu ia menolak untuk memilih pada pilpres. Yang akhirnya menyebabkan warga gerah. Akan tetapi apa yang ia lakukan adalah, ia menjadi panitia bagi KPU pada kelurahan setempat.

Secara singkat saya jelaskan, ia adalah orang yang cekatan dalam bekerja. Mengangkat kotak suara, melipat surat suara, meski tanpa bersuara.

Yang menarik adalah pada saat perhitungan suara padi TPU tersebut, dua besar calon tercekat pada jumlah suara yang sama

Tak lama kemudian hasil pemungutan suara final seluruh wilayah negara pun muncul. Dan hasilnya persentase kemenangan pada seluruh wilayah untuk dua besar calon teratas adalah sama..akhirnya dilakukan pemilihan tahap 2.

Ketika ditanyakan, “kamu jika milih, mau milih siapa ta?” Ia menjawabnya datar, “..yang jelas bukan salah satu di antara keduanya.”

Jangan salahkan rusta..

March 6, 2012

Rusta 3

Hari ini ada banyak daun yang berguguran di halaman rumah. Rusta kecil larut dalam mengumpulkan dedaunan tersebut.

Dinaya, tetangga sebelahnya memperhatikannya sejak lama. Tidak hanya itu, ia memperhatikan rusta sejak satu bulan yang lalu. Mulai dari dedaunan belum berguguran hingga hari ini.

Mreka memang tidak saling mengenal satu sama lain. Keduanya hanya saling bertatapan sesekali. Tidak banyak yang dapat aku jelaskan, mengingat usia mreka saat itu adalah 7 tahun.

Semakin hari semakin dinaya penasaran dengan rusta yang setiap hari pula selalu bermain di halaman rumahnya. Bahkan ketika hujan. Ya, saat hujan adalah saat dimana dinaya hanya dapat memperhatikannya lewat jendela.

Hingga suatu hari dinaya melemparkan batu tepat di hadapan rusta. Rusta lantas melemparkannya kembali kepada dinaya. Kemudian permainan ini berlanjut setiap hari, tetapi tanpa mereka pernah saling mengenal satu sama lain.

Saling lempar batu tersebut berakhir baru setelah salah satu di antara mereka tidak membalas lemparan yang lainnya.

Dari situlah..rusta tak pernah bertemu kembali dengan dinaya. Dan begitu pula halnya dengan dinaya.

March 6, 2012

Rusta 2

Dari kecil hingga saat ini kuliah, rusta tak pernah menaruh perhatian khusus terhadap suatu hal. Barangkali hal tersebut pun tak pula tertarik padanya

Suatu hari ia berjalan kaki yang cukup jauh dari rumah hingga pasar. Diperjalanan ia menemukan satu lembar uang 100.000

Akan aku coba gambarkan apa yang ia pikirkan pada saat melihaat lembaran tersebut:

Seseorang berjalan -> mengeluarkan dompet -> mengambil satu lembar 100.000 -> di jatuhkan di jalan -> dompet ditutup, lalu dimasukkan ke dalam saku belakang -> kemudian ia lewat dan melihat uang tersebut.

Sederhana sekali cara berpikirnya. Lantas apa yang rusta lakukan dengan uang tersebut?

Ia memang tidak memiliki dompet seperti orang kebanyakan. Uang tersebut ia perhatikan cukup lama kemudan ia masukkan ke dalam saku celana

Apa yang ia pikirkan?

…Ia tidak memikirkan apapun…

Hidupnya sederhana. Dia hanya merasa tidak sepantasnya uang ada di pinggir jalan. Dan mengenai uang tersebut akan digunakan buat apa, ia pun masih tidak tahu.

Yang pasti ia masih menyimpannya dengan baik.

Hari ini uang yang masih dengan lembaran dan nomer seri yang sama ia gunakan untuk bis terakhirnya.

Tak disangka, ia berkenalan dengan seorang wanita. Nanti akan aku ceritakan bagaimana uang 100.000 tersebut mengantarkannya untuk berkenalan dengan gadis tersebut.

Yang pasti, gadis itu bernama dinaya.