Archive for April, 2014

April 22, 2014

Roti dan Berry

Inilah kisah seorang mafia. Aku.

Sejak kali pertama aku melihat bedebah itu, aku langsung tau bahwa disini akan jadi menyenangkan bersamanya. Hingga saat ini tidak banyak yang kutahu tentangnya. Namun satu hal yang jelas, bahwa dia adalah seorang yang sombong.

Mari ikuti pembuktianku.

Sebagaimana selayaknya seorang yang demikian (sombong), mereka selalu menempatkan posisinya diatas yang lainnya, dia punya cerita yang selalu diatas cerita yang lainnya. Dan terakhir, mereka selalu berkilah bahwa kebenaran akan selalu miliknya.

Adalah mario, seorang anak pria yang akan kuceritakan kali ini. Dia hidup dari kalangan biasa, makan selayaknya seperti orang biasa, dan melakukan banyak hal sebagaimana orang biasa. Yang tidak biasa adalah bahwa ia ingin sekali lekas menjadi orang yang luar biasa. Melampaui batas kewajaran manusiawi.

Apa itu luar biasa dalam kacamataku. Adalah mereka yang extraordinary. Memiliki hal lebih yang tidak dimiliki orang lain yang itu adalah anugerah yang mampu ia optimalkan. Namun bagaimana luar biasa dalam versi mereka? Setelah kusimpulakan definisinya adalah sebagai berikut; 1)Bagaimana orang agar tidak lebih dari dirinya, 2)Bagaimana agar orang menghormatinya, 3)Bagaimana seterusnya ia mampu meninggalkan orang lainnya, sejauh mungkin.

Aku sangat ulet melakukan observasi. Sering sekali aku menatap terlalu lama terhadap objek yang aku amati yang kemudian ditutup dengan berpikir. Berpikir keras. Hingga sangat keras. Untuk mengkorelasikan banyak hal. Barangkali ini adalah anugerah bagiku karena semua rangkaian tersebut terjadi begitu saja tanpa aku rencanakan. Apakah aku sombong. Tidak. Krn bukan kalian patokanku.

Tepat sekali. Perbedaan antara definisi luar biasa yang kita miliki dan mereka tersebut miliki adalah titik referensi, atau acuan. Mereka seolah berkata “apapun itu, semua adalah mengenai mereka”. Berpatok kepada orang lain dan bukan dia. Subjektif. Sedangkan definisiku adalah bagaimana aku bisa menjadi lebih baik, dan menjadi lebih baik. Tidak perduli apakah orang lebih baik dariku atau bukan. Objektif. See, bukannkah itu merupakan sikap tidak-sombong. Karena memang aku bukan orang yang sombong.

Mario kemudian menjadi keluhan banyak orang. Mulai dari langkahnya, bagaimana ia menyuap makan, bagaimana ia melirik, bagaimana gesur bibirnya saat berbicara, bagaimana dia saat mengikat tali sepatunya, bagaimana ia mengangkat tong sampah itu!, bahkan bagaimana ia tersenyum saat bersepeda.

Setiap hari ia bersepeda ke sekolah ini. Kemudian parkir pada parkir sepeda yang tersedia. Hanya menggunakan satu slot seperti yang lainnya. Selanjutnya ia berjalan melewati lorong seperti aku yang kini tengah berjalan disebelahnya.

“hai mario”

“hai roni”

“bagaimana dengan tugas fisika?”

“selesai. Bagaimana denganmu?”

“selesai”

“nanti sore kau ada acara mario?”

“belum ada. ada apa?”

“Tidak. Hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat. Jika kau ada waktu”

“bisa. Aku bisa. Kau yang pertama hari ini. Bagaimana aku menolak”

“terimakasih”

“jam 4 aku keluar kelas. Kabari aku”

“aku menunggu di depan kelasmu”

“baik. Sampai nanti”

“sampai nanti”

Apakah kalian merasa ada yang tidak wajar dari pembicaraan barusan? Yang jelas aku bukan tipikal penyuka sesama jenis. Orang bilang aku dingin. Namun disaat yang sama orang bilang aku bersahabat. Jika dikalkulasi secara matematis, ‘dingin’ ditambah ‘bersahabat’ akan menghasilkan ‘konsisten’. Silahkan kalian melihat ke langit-langit tempat kalian berada saat ini lalu memikirkan bagaimana kesamaan matematis ini dpat terjadi dengan me-reka-reka bagaimana aku melakukan dingin dan disaat bersaman juga bersahabat tersebut.

Sore hari aku menunggunya didepan kelas. Bersama seorang teman yang lain bernama Nia, perempuan. Akan kuceritakan sedikit mengenai Nia. Dahulu di hari pertamaku disekolah disini Nia adalah seorang yang agresif. Aku melihatnya dari bagaimana ia membentuk image-nya saat itu kepada teman-teman yang lain. Dia saat itu sangat, sangat atraktif, luwes, dan tebuka. Namun satu minggu kemudian dia berubah drastis ke arah berlawanan. Menjadi seorang yang introvert. Hingga hari ini. Tidak banyak yang menyadari hal tersebut. Entah apa penyebabnya. Kawan, bukankah barusan kukatakan bahwa ia menjadi introvert? Lalu bagaimana aku bisa tau apa penyebabnya.

Kini ada Nia, Mario, dan aku yang tengah berjalan ke arah taman kota dimana disana bisa ditemukan banyak bunga, kursi taman, dan pohon. Mengenai rencanaku hari ini, aku akan menuju ke pohon tersebut.

Pohon ini sangat rindang. Kukira berukuran 30 m keatas. Berdaun rimbun. Tidak ada daun berguguran. Pohon ini memiliki dahan yang layak panjat. Beberapa sisi dahan memiliki kulit yang telah terkelupas karena sering dipanjat. Di bagian puncak dari pohon dimana tidak ada dahan lagi yang dapat dinaiki aku menaruh sebuah kertas. Kertas ini bertuliskan,

“suatu hari aku membayangkan berjalan kaki ke gurun pasir. Tenggorokanku sesak dan kering. Aku berjalan mencari mata air. Aku berpikir disana harusnya ada binatang karena aku pun lapar. Aku ingin makan daging. Setelah 13 hari yang lalu aku tidak lagi mencicipi daging. Perbekalanku hanya tinggal satu tangkup roti tawar, dan beberapa butir berry. Aku meninggalkan dua orang temanku dibelakang. Sebelumnya aku berdebat dengan mereka, sengit. Karena kami memperebutkan bahan makanan. Akhirnya kami berpisah. Aku memutuskan berjalan terlebih dahulu karena aku pikir aku tidak membutuhkan bahan makanan mereka. Lagipula aku masih punya roti dan berry. Aku hanya butuh air. Sekarang aku berpikir negatif apa yang terjadi dibelakang. Apakah mereka masih hidup? Satu orang mati? Atau keduanya mati? Atau mungkin mereka berbalik arah? Nia dan Mario yang kukagumi. Apakah kalian tau apa yang terjadi pada kedua orang tersebut?”

Aku mengulurkan tangan dan lalu memecah keheningan.

“hompimpa?”

Nia, “buat apa?”

Mario, “Buat ambil itu?”

“hompimpa”

Hanya butuh satu kali hompimpa saja kami mendapatkan satu orang yang berbeda. Karena memang hanya bertiga. Kebetulan hompimpa mendelegasikan Mario untuk mengambil kertas tersebut.

Mario memanjati pohon tersebut dengan cekatan. Cepat ia menentukan dahan mana yang harus diinjak dan dahan mana yang harus ia gapai. 5 menit ia telah turun kembali, dengan kertas ditangannya. Lalu Nia dan Mario membaca bersamaan didalam hati. Lalu setelahnya ia saling menatap dan dilanjutkan dengan menatap kearahku

Aku berkata cepat.

“kalian kuberi waktu hingga besok sore”

Esok sore kami berjanji bertemu kembali di tempat yang sama. Pada pukul 10 malam. Namun Nia menolak karena dia perempuan. Sulit baginya untuk keluar pada pukul 10 malam.

Aku berkata, “kau tidak datang, maka kau akan menyesal”, dingin.

Lalu Nia bimbang. Gesturnya menunjukkan bahwa dia ingin namun tidak dapat menyanggupi. Tidak lama berpikir, lalu Mario berkata “biar aku yang menjaminmu kepada orangtuamu”

Nia, “bagaimana caranya?”

Mario, “aku akan menjemputmu, bertamu, lalu meminta izin kepada ayahmu untuk membawamu. Bagaimana?”

Nia, “aku tidak yakin”

Mario, “serahkan itu padaku”

Kemudian Nia berkata “baik”, sambil melirikku lalu berkata kepadaku “kehadiranku bergantung pada Mario”

Malam harinya aku telah menunggu mereka dibawah pohon. Tepat pukul 10 aku melihat Mario tiba tanpa Nia.

“apakah Nia tidak diizinkan keluar?”

“ya. Orangtuanya khawatir””

“lalu bagaimana. Apa selanjutnya?”

“selanjutnya? Tidak ada. Aku hanya ingin tau jawabanmu dari kertas itu”

“aku sepakat mereka bertengkar. Bertengkar hingga akhirnya mereka berpencar”

“apakah salah seorang dari mereka mengambil bahan makanan orang yang lainnya?”

“hmm..ya. Karena mereka bertengkar saat itu. Sebut saja orang A dan orang B. Mereka bertengkar karena hawatir bahan makanan mereka masing-masing tidak cukup ntuk melanjutkan perjalanan. Sehingga misalkan, orang A mengambil bahan makanan orang B, lalu A melanjutkan perjalanan sedangkan B ditinggal. Entah apa yang terjadi setelah A meninggalkan B. Karena bahan makanan B habis maka tidak lama setelah A meninggalkan B, B akan mati. Barangkali begitu”

“lalu apa yang akan dilakukan selanjutnya oleh A?

“orang A akan berjalan mencari mata air”

“apakah ia akan bertemu orang pertama yang lebih awal meninggalkan A dan B?”

“ya. Mungkin. Jika firasat mereka sama mengenai dimana mata air”

“jika mereka bertemu, apa yang akan terjadi?”

“mereka akan melanjutkan perjalanan bersama”

“kamu yakin?”

“… ya”

“lalu apa motif orang A meninggalkan B? Mengapa dia tidak konsisten?”

“tidak konsisten?”

“ya. Dia tidak konsisten, tidak peduli pada B dan mau melanjutkan perjalanan bersama orang pertama. Sebaliknya, apakah kau yakin apa yang dia lakukan tersebut adalah konsisten?”

“…”

“Apakah orang pertama akan aman berjalan bersama orang A?”

“mengapa tidak aman? Mereka dari awal memang sudah berencana akan melakukan perjalanan tersebut bukan?”

“ya, tapi kau sombong!”

“apa maksudmu!!?”

“mengapa kau tidak menjemput Nia!?”

Hari sebelumnya mereka membaca kertas tersebut secara bersama dalam hening. Meskipun mereka yang melakukan diskusi tawar menawar untuk menjemput Nia, namun mereka memahami hal yang berbeda.

Nia adalah seorang yang introvert, hingga saat ini. Karakter aslinya adalah dia seorang yang ekstrovert. Karakter asli muncul saat ada hal yang benar-benar mengganggu. Aku penasaran dengan hal tersebut. Dan kedatangan Mario kerumah untuk menemui orangtuanya ternyata sangat mengganggu Nia, sehingga memunculkan sikap aslinya. Jika tidak, maka semua akan jadi sangat sederhana, Nia akan tetap Nia yang introvert, maka dia tidak akan datang sendiri malam ini, melainkan menunggu Mario. Aku sambil menunjuk kearah belakang pohon sambil berlirih,

“Nia.”

Lalu nia muncul sambil berkata

“aku datang 10 menit sebelum jam 10 dan bertemu Roni. Roni menceritakan semua dugaannya. Dan mata air yang roni cari adalah..”

Nia melirik kearahku lalu melirik kembali kearah Mario

“ternyata kau benar-benar sombong. Kau sombong mario! Aku introvert krn keluargaku. Dan kau! Dibalik pencitraan baikmu, kau sombong. Dan ironi sekali, karena bahkan untuk hal seperti ini kau pun ingin mengungguliku!”

 

Epilog:

“Akulah orang pertama itu. Itulah mengapa tadi kukatakan kau tidak konsisten. Lihatlah, betapa hinanya kau meninggalkan Nia”

 

End

 

20:42 wib. 22/04/14. Dri

 

 

 

Advertisements