Archive for January, 2014

January 3, 2014

PENANTANG TERAKHIR

Scene 1

Cerita ini berawal dari dalam suatu keramaian. Perlahan bergeser melewati satu persatu orang yang berdempetan, menyelip, bahkan menunduk dengan ponselnya, hingga akhirnya keluar, dan keluar dari kerumunan tersebut, dan disanalah aku. Si penantang terakhir.

Acara ini telah kuikuti cukup lama, tiga bulan sebelum ini. Ada banyak yang bergabung. Tiap minggu satu trip. Tiap minggu ada yang tereliminasi. Hingga kini kami tergabung dalam komunitas, yang kami beri nama: kesetanan. Saat ini hanya tersisa dua orang.

3 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji nyali mas. Yang menang dapat Sepuluh Juta”

2 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji adrenalin mas. Yang ciut mending mundur. Masnya geseran kesana”

1 bulan yang lalu..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Uji kewarasan mas. Bersyukur negara memfasilitasi kami”

Saat ini..

Reporter: “Acara apa ini, bisa dijelaskan?”
Aku: “Saya terburu buru. Maaf”

Hanya aku sendiri disini melihat lekat pada kerumunan orang ‘disana’. Reporter ini mengganggu. Kali ini mereka benar-benar mengganggu. Krn terakhir kulihat video mereka di Youtube (dengan kepala kami disensor), mereka meladeni komentar para aktivis, aku menyebutnya aktivis kewarasan dan mereka melaknat kami. Kupikir, sudahlah jangan di publish lagi kami ini. Kami ini binatang. Ini kebutuhan kami.

Lalu aku berlari sekencang mungkin kearah kerumunan, sekencang kencangnya, hingga dua meter dari kerumunan aku melompat dan berencana agar mendarat tepat ditengah kerumunan tersebut. Sambil benar2 mendorong mereka kesana kemari hingga semua yang ada, apapun itu, termasuk orang didalamnya benar benar berantakan. Pejabat itu langsung ditarik kedalam oleh petugas dan aku belingsatan mulai melepaskan diri.

Setelahnya, aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh-jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 2

Ini alasanku hidup, barangkali. Bayangkan terdapat suatu kamera entah dimana dari angkasa luar sana, kemudian ia bergerak dengan kecepatan konstan memasuki wilayah bumi, masih dengan kecepatan yang sama menembus awan kemudian menuju ke wilayah NKRI tepatnya pulau jawa, tepatnya lagi cekungan bandung, tepatnya lagi jalan suci, terus menuju warung kopi diseberang ITENAS, kamera tersebut masuk kedalamnya masih dengan kecepatan konstan dan tiba-tiba berhenti tepat didepan sosokku yang tengah tersenyum dengan salah satu kaki dilipat di paha, secangkir kopi diatas meja, sebatang Djarum Super disudut bibir, gurat senyum seolah tanpa masalah (padahal tepat didepanku adalah masalah).

Ini sebenarnya bukanlah seperti hal yang diperdebatkan oleh banyak orang. Mengatasi kecemasan melalui ritual warung kopi. Namun lebih dari itu ini hanya penghargaan baginya, seorang penjual kopi bau tanah, yang dunia telah lalu lalang didepannya, sementara disaat yang bersamaan ia hidup sebagaimana mestinya; tenang dan mengalir.

Dia orang paling tua di sekitar sini, sebelum keributan ini kuawali aku harus membuat penghormatan yang manis kepada orang yang paling tua. Penghargaan. Sebagai info tambahan, ini barangkali bisa digeneralkan, warung kopi terbaik, hanya dihuni oleh orang senior yang hidupnya telah mengakar dalam silih bergantinya peradaban. Dalam ekivalensi sebaliknya, para tetua dapat ditemui simply pada sebuah warung kopi terbaik. Sederhana.

Aku lalu berpamitan dengan tenang, melalui membayar harga kopi dan beberapa batang Djarum Super yang tadi kumakan. Jangan bayangkan pamitanku layaknya sepasang gesture dua orang yang benar-benar kontak satu sama lain. Sekali lagi sesederhana pembayaran. Begitulah.

Siang itu lajur ini ramai lancar, maksudku adalah ramai dan disaat bersamaan adalah lancar. Kalian tau bagaimana cara membayangkan kondisi yang kumaksud? (tanpa merujuk pada teori transportasi). Keramaian ini cukup membuatku hanya sekedar mendorong-dorongkankan badan beberapa kali saat mencoba menyeberang ke seberang sana. Lebih kurang demikian.

Reporter: “Bagaimana?”
Aku: “Apanya?”
Reporter: “Apa mau lanjut?”
Aku: “Bagaimana denganmu?”
Reporter: “Apanya”
Aku: “Apa mau lanjut?”
Reporter: “Dengan senang hati melihat kau mati”
Aku: “Begitu pula denganku”

Jika kalian paham, maksud kalimat terakhirku adalah, “Aku pun akan dengan senang hati pula melihatku mati”

Belum juga motor ini kunyalakan, RX-King, motor maling. Aku masih melirik tenang kepada jalanan. Barulah motor ku-engkol, beberapa kali, baru menyala. Lalu menunggu sebentar, sekedar hanya untuk memanaskan mesinnya, sekedarnya.

Barulah..

Gas ku sentak, motor pun sedikit melompat, tepat sekitar 2 meter kedepan lalu motor kubelokkan kekanan, lalu aku gas, sesuai kontrakku 40 km/jam. Bagaimana aku tau itu  40 km/jam? Duniaku gelap dahulu. Aku tahu bagaimana motor ini seukuran 40 km/jam.

Aku melesat, terus, terus, dan terus hingga, kontrakku, simpang lampu merah diujung sana. Selanjutnya hand-brake banting kiri, motor sliding sambil aku melepaskan tunggangan tersebut.

Setelahnya aku benar benar harus melepaskan diri dari sana dan berlari sejuh jauhnya. Dimana kamera? Dimana kamera? Itu bukan urusanku.

 

Scene 3

Satu minggu setelahnya aku menemui mereka berdua. Aku putuskan untuk seri. Itu hak-ku. Aku membayar mereka untuk mendengar dan menerima apa yang kumau.

A: “Apa rencanamu”
B: “Mesti ada yang terbaik”
Aku: “Tidak ada pemenang dari final battle round”

Keduanya asik dengan mereka masing-masing

Aku: “Kali ini mesti ada”

Keduanya mulai melirik

Aku: “Kalian menantang tantangan orang lainnya, begitu sebaliknya”
A: “Menarik”
B: “Bagaimana denganmu?”
Aku: “Aku hanya menunggu kabar”
Aku: “Habiskan kopimu, jika masih ingin disini silahkan”

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

Lalu suatu hari mereka menghubungiku kembali. Dan kami bertemu.

A: “Kami menyerah”
B: “Bagaimana logikamu kami tidak dapat paham”
Aku: “Bagaimana bisa kalian menyerah”
A: “Kami menantang tantangan orang lainnya maksudmu?”
Aku: “Tepat”
B: “Tantangan yang saling menantang satu sama lain? Kau bercanda. Kami tidak bisa”
Aku: “Jika demikian aku yang menang, sekaligus mengalahkan kalian berdua”
A: “Kenapa tidak dari awal saja kau katakan demikian?”
B: “Kau membayar kami untuk mendengar dan menerima apa yang kau mau”
Aku: “Tepat. Kalian dibayar untuk itu. Namun sekarang aku tidk membayar salah satu kalian. Aku membayar diriku sendiri. Krn aku pemenang.”

Tidak ada kalimat apapun setelah itu. Kami asik dengan diri kami masing-masing dan saling menukar rokok satu sama lain, dan sama yang lainnya lagi. Lalu masing-masing membakarnya. Setelah itu, aku hanya berkata “Sampai ketemu lagi” sambil mengangkat tangan kemudian berlalu.

Aku menyelipkan satu lembar Lima Puluh Ribu dibawah gelas kopiku. Lalu bergegas mengenakan jaket dan melebur bersama hujan menuju pinggir jalan untuk menunggu angkot. Angkot manapun itu, akan aku stop. Karena tengah hujan.

 

Advertisements